Ekonomi Lampung Tumbuh 5,58 Persen di Triwulan I 2026, Terkuat Kedua di Sumatera

BANDAR LAMPUNG GS – Perekonomian Provinsi Lampung pada Triwulan I 2026 menunjukkan ketahanan yang solid di tengah dinamika global. Berdasarkan paparan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung dalam kegiatan Bincang-Bincang Media, ekonomi Lampung tumbuh sebesar 5,58 persen secara tahunan (year on year), meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Capaian tersebut menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Sumatera, sekaligus menjadi salah satu motor penggerak ekonomi regional dengan kontribusi lebih dari 10 persen terhadap perekonomian Sumatera.

Pertanian Jadi Penopang Utama

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mencapai 9,89 persen. Kinerja ini didorong oleh momentum panen raya padi dan jagung pada awal tahun.

Sektor perdagangan besar dan eceran juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 6,91 persen, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode hari besar keagamaan nasional, mulai dari Tahun Baru, Imlek, Ramadan hingga Idulfitri.

Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan, konstruksi, serta industri pengolahan turut memberikan kontribusi positif, didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dan berlanjutnya proyek strategis nasional.

Konsumsi dan Investasi Menguat

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh permintaan domestik yang kuat. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,54 persen dan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Investasi juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 4,39 persen, didukung oleh keberlanjutan pembangunan dan meningkatnya aktivitas usaha. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh lebih tinggi sebesar 13,84 persen, seiring percepatan realisasi belanja dan program pemerintah.

Di sisi eksternal, ekspor masih tumbuh terbatas sebesar 0,75 persen, ditopang komoditas unggulan seperti pulp, produk industri makanan, dan bahan kimia organik.

Indikator Ekonomi Menguat

Sejumlah indikator turut mencerminkan optimisme ekonomi. Indeks Keyakinan Konsumen berada pada level optimis di angka 120,33, sementara Indeks Penjualan Riil meningkat, mencerminkan menguatnya konsumsi masyarakat.

Penyaluran kredit perbankan juga tumbuh positif, khususnya kredit investasi, menandakan meningkatnya kepercayaan dunia usaha. Di sisi lain, impor barang modal meningkat, mengindikasikan ekspansi kapasitas produksi.

Inflasi Tetap Terkendali

Di tengah pertumbuhan yang kuat, inflasi Lampung tetap rendah dan terkendali. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 0,53 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen.

Namun secara bulanan, inflasi April 2026 mencapai 0,55 persen, meningkat dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga komoditas seperti minyak goreng, beras, ikan nila, rokok, dan cabai merah.

Meski demikian, beberapa komoditas seperti cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras turut menahan laju inflasi.

Tantangan Global Masih Membayangi

Di balik kinerja positif tersebut, risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, meningkatkan biaya logistik, serta menekan nilai tukar rupiah.

Dampaknya, biaya produksi industri bisa meningkat dan berisiko menekan daya saing ekspor. Sektor industri pengolahan menjadi yang paling rentan, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.

Sebaliknya, sektor berbasis domestik seperti pertanian relatif lebih tahan terhadap guncangan global.

Prospek 2026 Tetap Positif

Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Lampung akan tetap tumbuh pada kisaran 5,0 hingga 5,6 persen sepanjang 2026. Inflasi juga diperkirakan tetap terkendali dalam target nasional 2,5 persen ±1 persen.

Pendorong utama pertumbuhan antara lain peningkatan investasi, penguatan sektor pertanian, keberlanjutan proyek strategis nasional, serta membaiknya iklim usaha.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diantisipasi, seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, serta potensi gangguan cuaca seperti El Nino.

Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang adaptif, perekonomian Lampung diyakini mampu menjaga stabilitas dan melanjutkan tren pertumbuhan positif di tengah tantangan global. (Arta)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *