Bukan Sekadar Tanam Pohon, Forum CSR Lampung Bangun Benteng Alami Pesisir

LAMPUNG SELATAN GS – Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Lampung kembali menggalang kolaborasi lintas sektor melalui aksi penanaman 8.000 bibit mangrove di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.

Gerakan bertajuk pelestarian ekosistem pesisir ini menjadi kelanjutan dari aksi gotong royong hijau yang sebelumnya dilakukan anggota Forum CSR Lampung dengan menanam 4.000 bibit mangrove di kawasan Merak Belantung, Kalianda.

Kali ini, PT SMA menjadi motor utama kegiatan dengan menggandeng PT Konverta Mitra Abadi dan Optima Nusa 7. Penanaman serta pemeliharaan mangrove dilakukan langsung oleh masyarakat Desa Sumber Nadi di bawah koordinasi Kepala Desa Ketut Sinda Atmita.

Prosesi penyerahan bibit secara simbolis dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Kabupaten Lampung Selatan, Dr. Tri Umaryani, S.P., M.Si., yang mewakili Bupati Lampung Selatan.

Turut hadir perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Lingkungan Hidup, camat, serta kepala desa.

Direktur PT SMA, Tatang Rohadi, S.T., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kesadaran perusahaan terhadap tanggung jawab ekologis di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Menurutnya, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan bukan lagi sekadar program pelengkap perusahaan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab dunia usaha dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dari total 8.000 bibit mangrove yang disiapkan, sebanyak 5.000 bibit akan ditanam di lahan seluas dua hektare. Sementara lebih dari 3.000 bibit lainnya dialokasikan untuk penyulaman atau mengganti tanaman di area yang mengalami kerusakan.

Perusahaan bersama masyarakat setempat juga akan melakukan pemantauan dan perawatan secara berkelanjutan guna memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.

“Kami PT SMA dan perusahaan-perusahaan yang tergabung di FCL menyadari betul bahwa keberlanjutan bisnis tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan di sekitar kita,” ujar Tatang.

Ia menjelaskan, wilayah pesisir Ketapang dan Lampung Selatan secara umum memiliki garis pantai yang panjang, tetapi juga rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Karena itu, upaya mitigasi berbasis ekosistem dinilai penting untuk memperkuat perlindungan wilayah pesisir dari ancaman abrasi, banjir rob, dan dampak perubahan iklim.

“Mangrove ini adalah investasi masa depan untuk menjaga tanah pesisir dari abrasi dan melindungi ruang hidup generasi mendatang,” katanya.

Tatang juga mengapresiasi kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari perusahaan swasta, BUMN, BUMD, pemerintah, akademisi, media, hingga komunitas masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kekuatan penting dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan.

“Ketika elemen swasta, BUMN, BUMD, pemerintah, akademisi, media, dan komunitas bergerak bersama dalam satu frekuensi, tidak ada tantangan lingkungan yang tidak bisa kita urai,” ungkapnya.

Pemkab Lampung Selatan Apresiasi Kolaborasi

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Dalam sambutan tertulis Bupati Lampung Selatan yang dibacakan Asisten Ekobang, Dr. Tri Umaryani, pemerintah daerah menyampaikan terima kasih dan dukungan kepada PT SMA serta perusahaan yang tergabung dalam Forum CSR Lampung atas kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan.

Pemerintah menilai perlindungan vegetasi pesisir menjadi hal penting mengingat Lampung Selatan memiliki garis pantai yang panjang dan berhadapan langsung dengan dinamika Selat Sunda.

Degradasi lahan pesisir tidak hanya berpotensi merusak infrastruktur dan mengurangi daya tarik pariwisata, tetapi juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat, khususnya nelayan.

Penguatan ekosistem mangrove dinilai menjadi langkah strategis karena memiliki peran sebagai penyerap karbon atau blue carbon, sekaligus benteng alami bagi keanekaragaman hayati pesisir.

Sinergi Forum CSR Lampung tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya mitigasi berbasis ekosistem untuk memperkuat ketahanan wilayah secara berkelanjutan.

Forum CSR Lampung Dorong Gotong Royong Lintas Sektor

Ketua Forum CSR Lampung, Dr. Veronika Saptarini, S.H., M.M., mengatakan kegiatan penanaman mangrove tersebut membawa pesan penting mengenai nilai gotong royong dalam pembangunan.

Menurut perempuan yang akrab disapa Rini itu, kegiatan tersebut menjadi contoh bagaimana perusahaan swasta, BUMN, BUMD, pemerintah, dan komunitas dapat bekerja bersama tanpa sekat demi kepentingan masyarakat.

Ia menjelaskan, seluruh fasilitas penunjang kegiatan, mulai dari penyediaan bibit, akomodasi, konsumsi, peralatan kerja, hingga tenaga lapangan untuk perawatan pascatanam, didukung secara bersama melalui kontribusi non-tunai.

Sejumlah pihak yang terlibat dalam dukungan tersebut antara lain Bank Lampung, PT Keong Nusantara Abadi (Wong Coco), Pertamina Geothermal Energy (PGE), Roti Jordan, PT Nestle Indonesia, Great Giant Food (GGF), PT Lambang Jaya, Adyatama, dan Yayasan Langit Sapta.

“Ini betul-betul gotong royong murni. Tidak ada cerita besar dan kecil, tidak ada transaksi uang tunai yang berputar dalam kegiatan ini. Semua bentuk kontribusi sangat berarti di sini,” ujar Rini.

Rini yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi CSR Universitas Bandar Lampung (UBL) tersebut menekankan pentingnya tata kelola tanggung jawab sosial perusahaan yang transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan hukum.

Ia mengingatkan, penyaluran CSR dalam bentuk uang tunai tanpa mekanisme akuntabilitas yang jelas dapat menimbulkan risiko tata kelola, termasuk potensi penyalahgunaan dan persoalan hukum bagi perusahaan maupun penerima manfaat.

Selain itu, pola penyaluran yang tidak transparan berpotensi menghasilkan manfaat jangka pendek dan tidak merata.

Karena itu, menurutnya, pelaksanaan CSR perlu mengedepankan transparansi, akuntabilitas, serta kepatuhan hukum dalam setiap tahapan kegiatan.

Model gotong royong melalui program fisik dan kolaborasi lintas sektor dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

CSR Bisa Dikembangkan untuk Desa Produktif

Rini mengatakan, potensi kolaborasi antara perusahaan swasta, BUMN, BUMD, dan komunitas tidak hanya dapat diarahkan untuk kegiatan penanaman mangrove.

Menurutnya, sinergi tersebut juga berpeluang dikembangkan menjadi program edukasi, kesehatan, nutrisi, keterampilan, hingga pembangunan kawasan eduwisata.

“Bayangkan jika seluruh potensi swasta, BUMN, BUMD, dan komunitas berhimpun menyatukan fokus CSR-nya. Perusahaan yang bergerak di bidang sarana prasarana bergabung dengan yang fokus pada edukasi, kesehatan, nutrisi, hingga keterampilan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi tersebut dapat dikembangkan untuk membangun kawasan maupun desa produktif yang mandiri secara ekonomi di berbagai wilayah Provinsi Lampung.

Rini menyebut konsep tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah yang dicanangkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Lebih lanjut, pola kolaborasi ini juga dinilai dapat menjadi alternatif bagi perusahaan yang menghadapi tantangan ekonomi, tetapi tetap memiliki komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Perusahaan tidak harus menambah alokasi anggaran CSR yang telah tersedia, melainkan dapat menyelaraskan sebagian program dengan prioritas pembangunan daerah melalui mekanisme gotong royong.

“Semakin banyak perusahaan bergabung di Forum CSR, akan semakin banyak masalah yang bisa diselesaikan,” ujarnya.

Masyarakat Diharapkan Ikut Menjaga Mangrove

Forum CSR Lampung menegaskan bahwa keberhasilan program penanaman mangrove tidak hanya bergantung pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada keberlanjutan perawatan dan keterlibatan masyarakat.

Warga Desa Sumber Nadi sebagai penerima manfaat diharapkan ikut menjaga, merawat, dan memanfaatkan seluruh fasilitas yang diberikan agar memberikan manfaat jangka panjang.

Melalui kolaborasi tersebut, penanaman mangrove di Ketapang diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat perlindungan ekosistem pesisir sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan di Lampung Selatan.

Gerakan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan dan komunitas lainnya untuk mengembangkan program CSR yang lebih terarah, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta lingkungan.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *