LAMPUNG GS – Perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,58 persen (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,54 persen (yoy).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung pada triwulan I 2026 atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp132,36 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp73,44 triliun.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatra sebesar 5,13 persen (yoy), meskipun sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen (yoy).
Dari sisi lapangan usaha, kinerja ekonomi Lampung terutama ditopang oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 9,89 persen (yoy), diikuti Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 6,91 persen, serta Industri Pengolahan sebesar 3,28 persen.
Pertumbuhan sektor pertanian didorong oleh puncak panen raya komoditas pangan, khususnya padi dan jagung. Sejalan dengan itu, sektor perdagangan turut meningkat seiring tingginya aktivitas distribusi antar daerah serta meningkatnya permintaan masyarakat selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Selain itu, sektor Industri Pengolahan, Konstruksi, serta Transportasi dan Pergudangan juga mencatat pertumbuhan positif masing-masing sebesar 3,28 persen, 4,96 persen, dan 6,11 persen (yoy). Kinerja ini didukung oleh peningkatan permintaan domestik, berlanjutnya proyek strategis, serta tingginya mobilitas masyarakat selama periode HBKN.
Program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan dorongan tambahan terhadap aktivitas ekonomi, khususnya pada sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman yang tumbuh signifikan sebesar 12,43 persen (yoy).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Lampung didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,54 persen, investasi sebesar 4,39 persen, serta konsumsi pemerintah yang meningkat tinggi hingga 13,84 persen (yoy).
Peningkatan konsumsi rumah tangga dipicu oleh naiknya aktivitas dan mobilitas masyarakat selama periode Idulfitri. Hal ini juga tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Lampung yang berada di level optimis, yakni 121,71 (indeks >100).
Sementara itu, kinerja investasi tetap solid, terutama ditopang oleh investasi bangunan seiring berlanjutnya proyek pembangunan strategis. Konsumsi pemerintah juga meningkat signifikan untuk mendukung berbagai program nasional, seperti MBG dan Koperasi Merah Putih.
Dari sisi eksternal, ekspor Lampung tetap tumbuh positif sebesar 0,75 persen, didorong oleh peningkatan ekspor komoditas seperti bubur kayu (pulp), sisa industri makanan, dan bahan kimia organik.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 berada pada kisaran 5,0 hingga 5,6 persen, didukung oleh penguatan permintaan domestik dan tetap terjaganya kinerja ekspor.
Untuk menjaga momentum tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama.
Pertama, penguatan sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian, integrasi hulu-hilir komoditas, serta pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Kedua, peningkatan nilai tambah dan investasi melalui hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan UMKM berorientasi ekspor, serta promosi investasi melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Ketiga, percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah guna meningkatkan efisiensi transaksi serta optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kalau mau, saya bisa bantu buatkan versi judul alternatif, lead lebih tajam, atau versi lebih singkat untuk media sosial.(*)





