BANDAR LAMPUNG GS – Kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Lampung tetap menunjukkan kondisi yang sehat dan kuat hingga Semester I 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp114,57 triliun atau tumbuh 5,35 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,77 persen menjadi Rp75,20 triliun.
Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, mengatakan kondisi sektor jasa keuangan di Lampung tetap resilien dan mampu menjaga fungsi intermediasi di tengah dinamika ekonomi global.
“Kondisi sektor jasa keuangan Lampung hingga Semester I 2026 tetap sehat, resilien, dan mampu menjaga fungsi intermediasi. Ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ujar Otto dalam siaran pers OJK Provinsi Lampung.
Pertumbuhan kredit ditopang oleh tiga sektor utama, yakni Kredit Modal Kerja sebesar Rp54,64 triliun, Kredit Investasi Rp18,93 triliun, dan Kredit Konsumsi Rp40,99 triliun. Dari sisi kualitas, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,73 persen dan NPL net sebesar 1,31 persen, yang masih berada pada level sehat.
OJK juga mencatat pembiayaan kepada sektor UMKM terus meningkat. Hingga Mei 2026, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp4,35 triliun atau tumbuh 6,15 persen (yoy) dengan total 73.787 debitur. Penyaluran terbesar berada di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit perbankan didominasi sektor Industri Pengolahan sebesar Rp22,47 triliun, disusul sektor Perdagangan Besar dan Eceran Rp21,18 triliun, Rumah Tangga Rp18,52 triliun, Bukan Lapangan Usaha Lainnya Rp17,57 triliun, serta sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Rp14,73 triliun. Sementara secara wilayah, Kota Bandar Lampung masih menjadi penyumbang terbesar portofolio kredit perbankan di Lampung.
Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), outstanding pembiayaan P2P Lending mencapai Rp1,55 triliun. Adapun jumlah investor pasar modal di Lampung terus bertambah hingga mencapai 203.565 Single Investor Identification (SID) dengan nilai transaksi saham sebesar Rp3,22 triliun hingga Maret 2026.
Sepanjang Semester I 2026, OJK Lampung juga melaksanakan 35 kegiatan literasi keuangan yang diikuti 8.315 peserta dari berbagai kalangan. Selain itu, OJK memberikan 4.660 layanan konsumen serta memproses 11.620 layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK Lampung turut menjalankan berbagai program inklusi keuangan, seperti pembentukan KNMP Desa Perkasa di Lampung Timur, Program Bank Sampah Sekolah di Bandar Lampung, serta Ekosistem Pesantren Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS) di Lampung Timur dan Kota Metro.
OJK optimistis sektor jasa keuangan di Provinsi Lampung akan terus tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan melalui sinergi dengan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, pelaku usaha, dan media massa guna mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Indra)





